Sunday, January 24, 2021

Virus Corona Jenis Terbaru Ditemukan di Brasil

 Pemerintah Brasil menyatakan menemukan penyebaran virus corona (Covid-19) jenis baru di kota Manaus, Amazon.



Para pakar kesehatan setempat kemudian khawatir kasus infeksi semakin bertambah karena virus jenis baru itu diperkirakan lebih cepat menular.

Dilansir Reuters, Senin (25/1), dari penelitian yang dipimpin pakar imunitas Brasil, Prof. Ester Sabino, ditemukan ada 42 persen dari kasus infeksi di Manaus akibat virus jenis baru.

Sabino memperoleh kesimpulan itu dari penelitian menggunakan data genom tes Covid-19 yang dikumpulkan di Manaus. Menurut dia, mutasi virus yang terjadi itu mirip seperti yang ditemukan di Inggris dan Afrika Selatan.

"Itu adalah data yang muncul selama Desember 2020. Saat ini kami tengah berupaya merampungkan hasil penelitian pada Januari dan memang terlihat ada penambahan kasus," kata Sabino yang mengajar di Universitas Sao Paulo.

Virus corona jenis baru yang ditemukan di Brasil itu diberi nama P.1. Virus itu ditengarai merupakan mutasi dari virus jenis N501Y dan E484K.

Virus P.1 itu ditemukan dari 13 di antara 31 hasil tes usap dari para penduduk yang positif corona. Hasil pemeriksaan itu dilakukan antara 15 sampai 23 Desember 2020 di Manaus.

Akan tetapi, tim peneliti yang dipimpin oleh Sabino masih belum mendapatkan contoh hasil pemeriksaan antara Maret hingga November 2020, sehingga belum bisa memastikan jumlah penyebaran virus jenis baru itu.

Akibat penemuan virus jenis baru itu, para pakar kesehatan mengusulkan supaya Badan Penerbangan Sipil Brasil mengawasi ketat kedatangan dan kepergian penumpang pesawat dari Manaus.

Menurut Sabino, ada kecenderungan virus mutasi itu lebih cepat menular ketimbang jenis yang ada saat ini, meski belum bisa dibuktikan secara menyeluruh. Akan tetapi, hal yang sama juga terjadi dengan membandingkan virus jenis lama dan mutasi itu.

Amazon adalah salah satu negara bagian yang mengalami dampak cukup berat akibat infeksi Covid-19. Sejumlah rumah sakit sampai pusat kesehatan masyarakat setempat penuh akibat menampung pasien Covid-19.

Petugas kesehatan dan dokter setempat juga kerepotan menghadapi wabah itu, ditambah lokasi mereka yang terpencil dan dikelilingi hutan tropis yang lebat hingga menyulitkan akses keluar masuk wilayah itu.

Akibatnya banyak penduduk di kawasan pedesaan Amazon yang terinfeksi Covid-19 tidak tertangani, dan akhirnya meninggal di rumah atau bahkan saat dirawat.

Pemerintah kota Manaus juga menolak pemberlakuan penguncian wilayah (lockdown), yang dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat tingkat infeksi di wilayah itu cukup tinggi.


source : https://www.cnnindonesia.com/internasional/20210125093649-134-597919/brasil-temukan-virus-corona-jenis-baru-di-amazon

Virus Corona (COVID-19)

 Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian.



Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, seperti lansia (golongan usia lanjut), orang dewasa, anak-anak, dan bayi, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui.


Infeksi virus Corona disebut COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia, hanya dalam waktu beberapa bulan.


Hal tersebut membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown dalam rangka mencegah penyebaran virus Corona. Di Indonesia sendiri, diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini.


Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapSARS-CoV-2asan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia).


Virus ini menular melalui percikan dahak (droplet) dari saluran pernapasan, misalnya ketika berada di ruang tertutup yang ramai dengan sirkulasi udara yang kurang baik atau kontak langsung dengan droplet.


Selain virus SARS-CoV-2 atau virus Corona, virus yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan virus penyebab Middle-East Respiratory Syndrome (MERS). Meski disebabkan oleh virus dari kelompok yang sama, yaitu coronavirus, COVID-19 memiliki beberapa perbedaan dengan SARS dan MERS, antara lain dalam hal kecepatan penyebaran dan keparahan gejala.


Rapid Test Antibodi

Swab Antigen (Rapid Test Antigen)

PCR

Tingkat Kematian Akibat Virus Corona (COVID-19)

Virus Corona yang menyebabkan COVID-19 bisa menyerang siapa saja. Menurut data yang dirilis Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Republik Indonesia, jumlah kasus terkonfirmasi positif hingga 20 Januari 2021 adalah 927.380 orang dengan jumlah kematian 26.590 orang. Tingkat kematian (case fatality rate) akibat COVID-19 adalah sekitar 2,9%.


Jika dilihat dari persentase angka kematian yang di bagi menurut golongan usia, maka kelompok usia 46-59 tahun memiliki persentase angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan golongan usia lainnya.


Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, 56,5% penderita yang meninggal akibat COVID-19 adalah laki-laki dan 43,5% sisanya adalah perempuan.


Gejala Virus Corona (COVID-19)

Gejala awal infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa menyerupai gejala flu, yaitu demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Setelah itu, gejala dapat hilang dan sembuh atau malah memberat. Penderita dengan gejala yang berat bisa mengalami demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Gejala-gejala tersebut muncul ketika tubuh bereaksi melawan virus Corona.


Secara umum, ada 3 gejala umum yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu:


Demam (suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius)

Batuk kering

Sesak napas

Ada beberapa gejala lain yang juga bisa muncul pada infeksi virus Corona meskipun lebih jarang, yaitu:


Diare

Sakit kepala

Konjungtivitis

Hilangnya kemampuan mengecap rasa

Hilangnya kemampuan untuk mencium bau (anosmia)

Ruam di kulit

Gejala-gejala COVID-19 ini umumnya muncul dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah penderita terpapar virus Corona. Sebagian pasien yang terinfeksi virus Corona bisa mengalami penurunan oksigen tanpa adanya gejala apapun. Kondisi ini disebut happy hypoxia.


Guna memastikan apakah gejala-gejala tersebut merupakan gejala dari virus Corona, diperlukan rapid test atau PCR. Untuk menemukan tempat melakukan rapid test atau PCR di sekitar rumah Anda, klik di sini.


Kapan harus ke dokter

Segera lakukan isolasi mandiri bila Anda mengalami gejala infeksi virus Corona (COVID-19) seperti yang telah disebutkan di atas, terutama jika dalam 2 minggu terakhir Anda berada di daerah yang memiliki kasus COVID-19 atau kontak dengan penderita COVID-19. Setelah itu, hubungi hotline COVID-19 di 119 Ext. 9 untuk mendapatkan pengarahan lebih lanjut.


Bila Anda mungkin terpapar virus Corona tapi tidak mengalami gejala apa pun, Anda tidak perlu memeriksakan diri ke rumah sakit, cukup tinggal di rumah selama 14 hari dan membatasi kontak dengan orang lain. Bila muncul gejala, baru lakukan isolasi mandiri dan tanyakan kepada dokter melalui telepon atau aplikasi mengenai tindakan apa yang perlu Anda lakukan dan obat apa yang perlu Anda konsumsi.

Virus Corona Jenis Terbaru Ditemukan di Brasil

  Pemerintah  Brasil   menyatakan menemukan penyebaran   virus corona   (Covid-19) jenis baru di kota Manaus,   Amazon . Para pakar kesehata...